Branding

Kenapa Brand Besar Tetap Melakukan Redesign Meski Sudah Terkenal?

Kenapa Brand Besar Tetap Melakukan Redesign Meski Sudah Terkenal?

Kenapa brand besar tetap melakukan redesign meski sudah terkenal? Alasannya bukan selalu karena desain lama terlihat buruk. Redesign justru sering dilakukan agar identitas visual tetap relevan dengan perkembangan bisnis, perubahan perilaku konsumen, hingga kebutuhan berbagai platform digital.

Dengan kata lain, brand yang kuat bukan berarti identitasnya tidak pernah berubah. Brand justru perlu mengetahui kapan harus mempertahankan aset lama dan kapan harus memperbaruinya.

Contohnya saja brand kosmetik Viva. Meski dari pihak Viva sendiri belum ada konfirmasi per Agustus ini, kami menilai beberapa alasan ini bisa menjadi kemungkinan perubahan pada logo mereka.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Viva Cosmetics (@viva.cosmetics)

1. Bisnis Berubah, Identitas Brand Juga Perlu Mengikuti

Perusahaan yang berdiri puluhan tahun biasanya tidak lagi sama seperti ketika pertama kali didirikan. Produk bertambah, target pasar berubah, teknologi berkembang, bahkan positioning perusahaan bisa mengalami pergeseran.

Bayangkan sebuah perusahaan yang awalnya hanya menjual satu jenis produk, kemudian berkembang menjadi perusahaan teknologi dengan berbagai layanan digital.

Identitas visual yang dibuat 20 tahun sebelumnya mungkin sudah tidak sepenuhnya menggambarkan bisnis tersebut. Redesign menjadi salah satu cara untuk menyelaraskan bagaimana perusahaan terlihat dengan kondisi bisnisnya saat ini.

Bukan berarti seluruh identitas harus diganti. Terkadang perubahan kecil pada logo, warna, tipografi, atau visual system sudah cukup untuk membuat brand terasa lebih relevan.

2. Menyesuaikan Brand dengan Era Digital

Logo zaman dahulu banyak dirancang untuk media seperti kemasan, billboard, kartu nama, brosur, dan papan toko.

Sekarang logo harus bekerja dalam kondisi yang jauh lebih kompleks. Brand muncul di website, aplikasi, marketplace, media sosial, smartwatch, email, hingga layar smartphone yang ukurannya sangat kecil.

Logo dengan terlalu banyak detail mungkin terlihat bagus ketika dicetak besar, tetapi sulit dikenali ketika tampil sebagai icon aplikasi. Karena itu, banyak redesign logo mengarah pada identitas yang lebih fleksibel.

Logo dibuat lebih sederhana, sistem warna diperluas, tipografi diperbarui, dan dibuat beberapa variasi logo untuk kebutuhan media yang berbeda.

3. Menjaga Brand Tetap Relevan untuk Generasi Baru

Brand yang sudah berdiri selama puluhan tahun menghadapi tantangan lain: konsumennya terus berganti generasi.

Desain yang terasa modern pada tahun 1990-an belum tentu memberikan kesan yang sama kepada konsumen saat ini. Brand besar perlu mempertahankan recognition dari pelanggan lama sambil tetap menarik bagi audiens yang lebih muda.

Inilah mengapa redesign sering dilakukan secara bertahap. Alih-alih menghapus seluruh identitas lama, perusahaan mempertahankan elemen yang sudah dikenal kemudian mengembangkan visualnya menjadi lebih modern.

Cara ini memungkinkan brand berubah tanpa terasa menjadi brand yang benar-benar berbeda.

4. Membuat Identitas Lebih Konsisten

Semakin besar sebuah perusahaan, semakin banyak pula media komunikasi yang dimilikinya.

Identitas brand dapat digunakan pada:

  • website;
  • aplikasi;
  • social media;
  • packaging;
  • company profile;
  • annual report;
  • presentasi;
  • iklan;
  • merchandise;
  • signage;
  • hingga interior kantor.

Jika sistem identitas lama tidak mempunyai aturan yang cukup fleksibel, desain dapat terlihat berbeda-beda di setiap media.

Redesign kemudian tidak hanya memperbarui logo. Perusahaan dapat membangun visual identity system yang lebih lengkap, mulai dari aturan warna, tipografi, fotografi, ilustrasi, ikon, grid, hingga motion graphic.

Dengan sistem tersebut, identitas perusahaan menjadi lebih mudah dijaga ketika diaplikasikan oleh banyak tim dan vendor.

5. Brand Ingin Mengubah Persepsi Konsumen

Kadang masalah sebuah brand bukan produknya, tetapi persepsi masyarakat terhadapnya.

Misalnya, sebuah perusahaan mungkin dianggap terlalu tradisional, hanya cocok untuk generasi tertentu, atau tidak lagi relevan dengan perkembangan industri. Redesign dapat membantu memberikan sinyal bahwa perusahaan sedang memasuki fase baru.

Perubahan warna, logo, fotografi, hingga tone visual dapat membantu membentuk persepsi berbeda. Namun, perubahan desain saja tentu tidak cukup.

Jika perusahaan ingin terlihat lebih inovatif, produk, layanan, komunikasi, dan customer experience juga harus mendukung positioning tersebut.

Branding yang kuat terjadi ketika visual dan pengalaman yang diberikan perusahaan berjalan dalam arah yang sama.

6. Redesign Bisa Menandai Perubahan Besar Perusahaan

Identitas baru terkadang muncul bersamaan dengan perubahan besar dalam bisnis.

Misalnya setelah merger, ekspansi internasional, perubahan strategi, transformasi digital, atau perusahaan memasuki kategori bisnis baru.

Redesign menjadi simbol bahwa perusahaan sedang memulai babak baru.

Dalam kondisi seperti ini, identitas visual membantu menyampaikan perubahan tersebut kepada karyawan, pelanggan, investor, partner, dan publik.

Karena itu, redesign tidak hanya menjadi proyek desain, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi perusahaan.

Redesign Tidak Selalu Berarti Rebranding

Redesign dan rebranding sering dianggap sama, padahal keduanya bisa berbeda. Redesign biasanya lebih banyak berhubungan dengan pembaruan visual seperti logo, tipografi, warna, atau sistem desain.

Sementara rebranding dapat mencakup perubahan yang jauh lebih luas, termasuk positioning, target audiens, brand personality, value proposition, hingga strategi komunikasi.

Karena itu, perusahaan yang memperbarui logo belum tentu sedang melakukan rebranding total. Dalam banyak kasus, perubahan yang dilakukan justru lebih tepat disebut brand refresh.

Baca juga: Cara Rebranding Usaha Baru Tanpa Menguras Modal

Jangan Redesign Hanya karena Mengikuti Tren

Melihat kompetitor mempunyai logo baru memang bisa membuat perusahaan tergoda melakukan hal yang sama. Namun, redesign sebaiknya tidak dilakukan hanya karena tren minimalis sedang populer atau karena perusahaan merasa logo sudah cukup lama digunakan.

Sebelum redesign, perusahaan perlu mengevaluasi beberapa hal. Apakah identitas saat ini masih mencerminkan positioning? Apakah logo mudah digunakan dalam berbagai media? Apakah visual perusahaan konsisten? Apakah target pasar sudah berubah? Dan yang paling penting, masalah apa yang sebenarnya ingin diselesaikan?

Tanpa alasan yang jelas, redesign justru berisiko menghilangkan aset brand yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Jadi, kenapa brand besar tetap melakukan redesign meski sudah terkenal? Karena popularitas tidak membuat sebuah brand kebal terhadap perubahan.

Perilaku konsumen berubah, teknologi berkembang, perusahaan memasuki pasar baru, dan media komunikasi terus bertambah. Redesign membantu perusahaan tetap relevan sekaligus memastikan identitas visual dapat bekerja dengan baik dalam kondisi tersebut.

Namun, redesign yang baik bukan tentang membuat semuanya terlihat baru. Justru tantangan terbesarnya adalah mengetahui elemen mana yang perlu diperbarui dan aset brand mana yang harus tetap dipertahankan.

Bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan brand refresh, redesign, atau pengembangan brand identity, Artmosphere Design Agency dapat membantu mengevaluasi identitas yang sudah ada dan mengembangkan visual system yang lebih relevan dengan perkembangan bisnis.

Karena pada akhirnya, brand yang kuat bukan brand yang tidak pernah berubah, tetapi brand yang mampu berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

Baca juga: Desain dari AI vs Desainer Profesional, Apa Bedanya untuk Branding? dan Kenapa Banyak Brand Mulai Menyederhanakan Logo Mereka?

FAQ tentang Redesign Brand

1. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan redesign brand?

Redesign dapat dipertimbangkan ketika identitas visual sudah tidak relevan, sulit digunakan di media digital, tidak konsisten, atau tidak lagi mencerminkan perkembangan bisnis dan positioning perusahaan.

2. Apakah redesign harus selalu mengubah logo?

Tidak. Redesign bisa mencakup pembaruan warna, tipografi, fotografi, ilustrasi, layout, hingga visual system tanpa harus mengganti logo secara total.

3. Apa risiko melakukan redesign terlalu sering?

Redesign yang terlalu sering dapat membuat konsumen bingung dan melemahkan brand recognition. Karena itu, perubahan sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan yang jelas, bukan hanya mengikuti tren.

4. Apakah brand kecil juga perlu melakukan redesign?

Bisa. Redesign tidak hanya untuk brand besar. Brand kecil juga dapat melakukannya ketika identitas visual sudah tidak sesuai dengan target pasar, perkembangan bisnis, atau arah brand yang baru.

5. Apa yang harus dipertahankan saat melakukan redesign?

Elemen yang sudah kuat di benak konsumen sebaiknya tetap dipertimbangkan, seperti warna utama, simbol, karakter tipografi, atau bentuk tertentu. Tujuannya agar identitas terasa lebih baru tanpa kehilangan brand recognition.

Our Blog

You May Also Like